6 Alasan Mengapa Gigi Harus Dicabut

August 1 2010 Categorized Under: Kesehatan Gigi, Kesehatan Umum No Commented

Pencabutan atau ekstraksi gigi adalah pengambilan gigi dari soketnya di tulang. Berikut adalah alasan mengapa gigi harus dicabut:

1. Gigi telah rusak parah

Jika gigi rusak karena berlubang atau patah, dokter gigi Anda akan mencoba untuk memperbaikinya dan memulihkannya dengan menambal, memberi mahkota atau perawatan lainnya. Kadang-kadang, bila kerusakannya terlalu luas untuk diperbaiki maka gigi harus dicabut.

2. Gigi ekstra yang menganggu gigi lain

Beberapa orang memiliki gigi ekstra yang mendesak gigi lain dan menimbulkan masalah baik dalam fungsi maupun estetika gigi.

3. Menjalani perawatan yang menekan sistem kekebalan tubuh

Orang yang menjalani kemoterapi bisa mengembangkan infeksi gigi. Obat ini sangat kuat dan memperlemah sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan sehingga meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, bila ada gigi yang tidak sehat mungkin perlu dicabut sebagai pencegahan.

Orang yang akan menjalani transplantasi organ juga mungkin harus dicabut giginya bila gigi itu dikhawatirkan menjadi sumber infeksi pasca transplantasi. Pasien transplantasi organ rentan terhadap infeksi karena pasien harus meminum obat yang menekan sistem kekebalan tubuhnya.

4. Menjalani perawatan gigi kosmetik

Orang yang menjalani perawatan kawat gigi mungkin perlu dicabut giginya untuk menciptakan ruang bagi gigi yang sedang dipindahkan ke tempatnya.

5. Menerima terapi radiasi (radioterapi)

Orang yang menerima radiasi di kepala dan leher mungkin perlu dicabut giginya di wilayah yang diradiasi.

6. Geraham bungsu yang tumbuh mengganggu

Geraham bungsu, juga disebut geraham ketiga, sering dicabut baik sebelum atau setelah muncul. Gigi ini umumnya tumbuh di akhir masa remaja atau di awal dua puluhan. Geraham bungsu dapat terjebak dalam rahang dan sering harus dicabut jika membusuk atau menyebabkan rasa sakit. Geraham bungsu juga mungkin terhalang sebagian oleh gigi lain sehingga tidak memiliki cukup ruang untuk tumbuh sepenuhnya. Hal ini dapat mengiritasi gusi, menyebabkan rasa sakit dan bengkak, yang mengharuskan pencabutan gigi.

Jenis ekstraksi gigi

Ada dua jenis ekstraksi: ekstraksi gigi sederhana dan ekstraksi bedah.

  • Ekstraksi gigi sederhana dilakukan pada gigi yang dapat dilihat dalam mulut. Dokter gigi umum dapat melakukan ekstraksi sederhana, dan kebanyakan dilakukan di bawah anestesi lokal, dengan atau tanpa obat antidepresan. Dalam ekstraksi sederhana, dokter gigi akan menjepit dengan forsep gigi dan menggoyang forsep bolak-balik untuk mengendurkan gigi sebelum mencabutnya. Kadang-kadang, suatu alat yang disebut luxator, yang ditempatkan antara gigi dan gusi, digunakan untuk membantu melonggarkan gigi.
  • Ekstraksi gigi yang melibatkan pembedahan dilakukan untuk gigi yang tidak dapat dilihat dengan mudah di dalam mulut, baik karena patah di bawah permukaan gusi atau karena belum tumbuh. Ekstraksi bedah biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah mulut. Pembedahan dapat dilakukan dengan bius lokal atau umum. Pasien dengan kondisi medis khusus dan anak-anak dapat diberikan anestesi umum. Dalam ekstraksi bedah, dokter harus membuat sayatan pada gusi Anda untuk menjangkau gigi. Dalam beberapa kasus, gigi tersebut harus dipecah menjadi beberapa bagian sebelum dicabut. Jika Anda membutuhkan geraham bungsu untuk dicabut, maka biasanya gigi itu akan dikeluarkan pada saat yang sama.

Gigi atas biasanya lebih mudah dicabut dibandingkan gigi bawah. Gigi yang miring ke samping bisa lebih sulit dicabut dibandingkan yang tumbuh vertikal.

sumber: colgate-palmolive

Infeksi yang Menular dari Ibu ke Bayi

July 30 2010 Categorized Under: Kesehatan Anak, Kesehatan Wanita, Populer No Commented

Bayi dapat tertular penyakit infeksi ibunya melalui berbagai cara. Di uterus (rahim), bayi tumbuh dalam lingkungan yang steril. Namun, bila selaput ketuban ibu rusak karena suatu sebab, bayi dapat terinfeksi oleh penyakit. Selama persalinan, bayi bisa menelan atau mengirup cairan pada jalan lahir, dan bakteri atau virus bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kebanyakan mikroba yang berkembang di area intim wanita tidak berbahaya, tetapi ada juga yang berbahaya seperti bakteri GBS atau virus herpes kelamin (genital). Bayi juga dapat terinfeksi virus melalui plasenta yang memasok nutrisi dan oksigen baginya selama di dalam kandungan.

1. Streptokokus Grup B (GBS)

Bakteri GBS dapat berkoloni di jalan lahir bayi. Bakteri ini menginfeksi sekitar 25% perempuan di seluruh dunia, tetapi kebanyakan tidak menimbulkan gejala. Bayi dapat terinfeksi oleh bakteri ini di dalam rahim atau pada saat lahir. Bayi prematur dan bayi lahir berat badan rendah lebih berisiko terkena GBS. Jika ibu telah memiliki bayi sebelumnya dengan infeksi GBS, tindakan pencegahan harus diambil.

Kebanyakan bayi yang terinfeksi GBS tidak mengembangkan masalah, namun bila berkembang maka bisa menimbulkan infeksi aliran darah (sepsis), infeksi paru (pnemonia) atau  infeksi cairan dan selaput otak (meningitis) yang mematikan.

Gejala infeksi GBS seperti demam, nafas tersengal/sesak, detak jantung tak beraturan, lesu, kejang, dll dapat terlihat dalam beberapa hari pertama setelah lahir. Namun, dalam kasus tertentu, gejala infeksi dapat terlihat 1 minggu s.d. 3 bulan setelah lahir (late onset). Bayi biasanya harus diberi antibiotik melalui infus di rumah sakit jika mereka menunjukkan tanda-tanda tidak sehat.

GBS adalah bakteri yang sulit diberantas. Namun, jika seorang wanita diketahui berisiko tinggi menularkan infeksi bakteri ini, antibiotik suntik yang kuat biasanya dapat mencegah penularan dari ibu ke bayi.  Dokter juga mungkin merekomendasikan persalinan melalui bedah caesar yang lebih aman. Bakteri ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan vagina, dubur atau urin ibu.

2. Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis dapat ditularkan baik melalui plasenta di dalam rahim, menghirup atau menelan cairan yang terinfeksi saat kelahiran, atau menghirup udara yang mengandung kuman TBC setelah lahir. Sekitar 50% anak yang lahir dari ibu penderita TBC paru aktif mengembangkan penyakit ini selama tahun pertama kehidupan jika vaksin BCG tidak diberikan. Bayi penderita TBC dapat terlihat mengalami demam, lesu, gangguan pernapasan, pembengkakan hati (hepatosplenomegali), atau gagal tumbuh. Pengobatan TBC bayi biasanya menggunakan INH/isoniazid dan rifampisin.

3. Herpes simplex

Virus herpes simplex dapat ditularkan ketika bayi masih di dalam rahim, saat melewati jalan lahir atau tepat setelah kelahiran (postpartum). Herpes tipe 2 (herpes kelamin) adalah penyebab paling umum infeksi herpes pada bayi baru lahir, tapi herpes tipe 1 (herpes mulut) juga dapat terjadi. Virus ini dapat mengakibatkan banyak komplikasi yang berakibat buruk bagi bayi, seperti kebutaan dan cerebral palsy.

Jika ibu mengidap infeksi herpes kelamin aktif pada saat persalinan, bayi lebih mungkin terinfeksi selama proses kelahiran. Beberapa ibu tidak sadar kalau memiliki herpes kelamin aktif, jadi penting bagi mereka untuk memberitahu dokter jika mereka memiliki riwayat herpes kelamin. Selain itu, beberapa orang pernah terinfeksi herpes di masa lalu, tetapi tidak mengetahuinya. Mereka tanpa menyadari dapat menularkan virus itu ke bayi mereka.

Infeksi virus herpes pada bayi umumnya diobati dengan obat yang diberikan melalui vena (intravena). Acyclovir merupakan obat antivirus yang paling umum digunakan untuk tujuan ini. Bayi mungkin harus minum obat ini selama beberapa minggu.Terapi lainnya adalah mengobati efek dari infeksi, seperti shock atau kejang. Seringkali, bila bayi sakit parah, pengobatan dilakukan di unit perawatan intensif (neonatal intensive care).

4. Hepatitis B dan C

Ibu yang terinfeksi virus hepatitis B berisiko menularkan virus tersebut kepada bayinya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau darahnya pada saat persalinan. Hepatitis B pada bayi yang baru lahir biasanya tidak menimbulkan gejala. Bila ada gejala, maka gejalanya adalah penyakit kuning, lesu, pertumbuhan terhambat, distensi perut, dan kotoran berwarna coklat. Imunisasi dapat membantu mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi.

Virus hepatitis C, meskipun sangat jarang terjadi, dapat ditularkan ibu ke bayinya pada saat persalinan melalui kontak langsung dengan darah ibu yang terinfeksi.  Wanita dengan tingkat virus hepatitis C yang rendah dalam darah mereka kecil kemungkinannya menularkan virus itu ke bayi mereka. Wanita dengan tingkat virus yang tinggi, mereka yang mengalami kerusakan hati parah atau pada fase akut dari infeksi, berisiko lebih tinggi untuk menularkan hepatitis C ke bayi mereka. Infeksi hepatitis C biasanya tidak menimbulkan gejala.

5. HIV/AIDS

HIV adalah salah satu virus mematikan yang menimbulkan penyakit AIDS. Bayi dapat terinfeksi oleh virus ini selama masa kehamilan atau persalinan. Jika seorang wanita hamil dengan HIV positif, kemungkinan besar bayinya juga terinfeksi oleh HIV. Menyusui juga dapat menularkan virus ini ke bayi.

Bayi yang terinfeksi HIV mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun saat lahir. Namun, dalam 2 sampai 3 bulan dia dapat mengembangkan infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang berkembang karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pneumonia, tuberkulosis, jamur mulut (sariawan), dll.

Artikel Sebelumnya