Pencabutan atau ekstraksi gigi adalah pengambilan gigi dari soketnya di tulang. Berikut adalah alasan mengapa gigi harus dicabut: 1. Gigi telah rusak parah Jika gigi rusak karena berlubang atau patah, dokter gigi Anda akan mencoba untuk memperbaikinya dan memulihkannya dengan menambal, memberi mahkota atau perawatan lainnya. Kadang-kadang, bila kerusakannya terlalu luas untuk diperbaiki maka gigi harus dicabut. 2. Gigi ekstra yang menganggu gigi lain Beberapa orang memiliki gigi ekstra yang mendesak gigi lain dan menimbulkan masalah baik dalam fungsi maupun estetika gigi. 3. Menjalani perawatan yang menekan sistem kekebalan tubuh Orang yang menjalani kemoterapi bisa mengembangkan infeksi gigi. Obat ini sangat kuat dan memperlemah sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan sehingga meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, bila ada gigi yang tidak sehat mungkin perlu dicabut sebagai pencegahan. Orang yang akan menjalani transplantasi organ juga mungkin harus dicabut giginya bila gigi itu dikhawatirkan menjadi sumber infeksi pasca transplantasi. Pasien transplantasi organ rentan terhadap infeksi karena pasien harus meminum obat yang menekan sistem kekebalan tubuhnya. 4. Menjalani perawatan gigi kosmetik Orang yang menjalani perawatan kawat gigi mungkin perlu dicabut giginya untuk menciptakan ruang bagi gigi yang sedang dipindahkan ke tempatnya. 5. Menerima terapi radiasi (radioterapi) Orang yang menerima radiasi di kepala dan leher mungkin perlu dicabut giginya di wilayah yang diradiasi. 6. Geraham bungsu yang tumbuh mengganggu Geraham bungsu, juga disebut geraham ketiga, sering dicabut baik sebelum atau setelah muncul. Gigi ini umumnya tumbuh di akhir masa remaja atau di awal dua puluhan. Geraham bungsu dapat terjebak dalam rahang dan sering harus dicabut jika membusuk atau menyebabkan rasa sakit. Geraham bungsu juga mungkin terhalang ...
Kontroversi Bahaya Efek Samping MSG
Sejak ditemukan di Jepang tahun 1909 oleh Ajinomoto Corp, monosodium glutamat (MSG) telah berkembang menjadi salah satu zat aditif makanan yang paling populer di seluruh dunia. Selain MSG, ada penyedap rasa lain yang digunakan oleh industri makanan seperti disodium inosinat (IMP) dan disodium guanilat (GMP). Namun MSG-lah yang paling disukai orang karena kemurahan dan keefektifannya dalam menguatkan rasa. MSG digunakan di seluruh dunia pada hampir semua jenis sayuran, kaldu dan lauk-pauk. MSG juga hadir dalam berbagai makanan olahan seperti daging kalengan dan daging olahan beku, saus tomat, mayones, kecap, sosis, makanan ringan, beberapa produk olahan keju, bumbu mie instan, dll. Penggunaan MSG kadang-kadang "tersembunyi" di balik label makanan dengan nama yang berbeda. Jika Anda melihat "penyedap rasa alami", "protein hidrolisat" dan "rempah-rempah" dalam label makanan Anda, bukan berarti di dalamnya tidak ada MSG. Aman menurut Badan Pengawas Makanan MSG adalah bubuk putih yang cepat larut dalam air atau air liur. Setelah larut, MSG terurai menjadi natrium dan glutamat. Glutamat adalah asam amino nonesensial yang ditemukan di hampir semua protein. Di Amerika Serikat, MSG termasuk dalam daftar bahan makanan yang aman menurut Food and Drug Administration. Komite Ilmiah Uni Eropa juga menilai MSG sebagai zat makanan yang aman. Di Jepang, MSG adalah zat aditif makanan yang boleh digunakan tanpa pembatasan. Di Indonesia sendiri, MSG termasuk bahan makanan yang dianggap aman oleh BPOM. "Micin atau penyedap rasa, atau MSG, aman dikonsumsi masyarakat. Asosiasi pangan dunia juga telah menguji kalau efek negatif yang selama ini digembar-gemborkan ke masyarakat tentang penggunaan micin tidak terbukti," kata Kepala ...
Hubungan Seks Saat Hamil, Amankah?
Hubungan seks merupakan topik penting selama kehamilan. Banyak wanita yang tidak yakin apakah hubungan seks saat hamil tidak membahayakan bayinya, posisi apa yang cocok, dan masalah-masalah lainnya. Perubahan dorongan seksual Umumnya dorongan berhubungan seks berfluktuasi selama masa kehamilan. Dorongan seksual biasanya menurun pada trimester pertama. Hal ini karena kebanyakan gejala kehamilan seperti nyeri payudara, kebutuhan buang air kecil yang meningkat, morning sickness dan lainnya terjadi pada trimester pertama sehingga Anda merasa lelah atau kurang sehat untuk berhubungan seks. Selama trimester kedua, dorongan seksual biasanya meningkat, seiring menghilangnya gejala kehamilan dan meningkatnya energi Anda. Sepanjang trimester ketiga dorongan seksual Anda dapat kembali menurun dengan semakin membesarnya perut dan semakin fokusnya perhatian Anda untuk persiapan melahirkan. Rasa cinta di antara suami-istri biasanya meningkat selama kehamilan. Selain hubungan seksual, belaian, sentuhan dan pijatan dapat memenuhi kebutuhan cinta pasangan. Banyak wanita hamil yang secara keseluruhan justru meningkat libido seksualnya selama kehamilan. Hormon-hormon kehamilan memang dapat merangsang seksualitas. Ini adalah hal yang normal, karena masing-masing wanita memiliki perasaan yang berbeda. Penting untuk disadari bahwa pasangan Anda pun mengalami perubahan serupa. Banyak pria yang semakin bergairah melihat perut buncit istrinya yang terlihat "seksi". Meningkatnya kelembaban dan menebalnya area "v" karena peningkatan aliran darah ke area panggul juga dapat meningkatkan sensasi. Namun, di sisi lain banyak pria yang khawatir hubungan seks akan menyakiti buah hatinya di dalam rahim. Apakah berbahaya? Dalam kehamilan normal, hubungan seks tidak membahayakan bayi. Cairan ketuban dan otot-otot kuat di sekitar rahim melindungi bayi dari guncangan. Bayi juga terlindung dari penetrasi penis karena adanya lapisan lendir tebal yang melindungi leher ...
12 Tips Menjaga Kesehatan Jiwa
1. Berolah raga. Penelitian menunjukkan bahwa olah raga lebih efektif dalam mencegah dan mengobati depresi daripada obat-obatan. 2. Ekspresikan cinta. Memberi dan mendapatkan cinta kasih membuat hidup kita bahagia. Mencurahkan cinta kasih kepada keluarga, kerabat dan orang lain adalah kunci kebahagiaan rohani. Membantu orang lain membuat hidup kita lebih bermakna dan kehadiran kita diharapkan. 3. Kurangi Menonton Televisi, Film dan Video/Online Game. Menonton televisi, film atau bermain game berlebihan dapat mempengaruhi kesehatan mental kita. Kekerasan dalam tayangan berita, film laga, dan game dapat mengurangi keseimbangan emosional, membuat depresi dan mempengaruhi respon emosi kita. Setelah melihat begitu banyak kekerasan, kita bisa tidak lagi mengenalinya sebagai kekerasan. Kilasan iklan televisi juga dapat menyebabkan indera dan otak kita overload dan kelelahan. Banyak film yang menghibur, tetapi ada juga yang membangkitkan emosi negatif bagi sebagian orang. Bagi orang yang sensitif atau pernah mengalami semacam trauma dalam hidupnya, mengurangi waktu dan intensitas menonton tayangan yang memicu emosinya akan membantu menjaga keseimbangan jiwa. Fokuslah pada hal-hal positif. Cobalah membaca berita, daripada menonton berita televisi. Membaca lebih berpengaruh lembut pada pikiran dan kita bisa lebih selektif. Cobalah menghindari tayangan kekerasan atau sensasional, pilihlah hanya program-program televisi dan film yang positif. 4. Mengapresiasi dan membuat karya seni. Menikmati seni lukis, seni fotografi, seni musik, seni tari dan bentuk-bentuk kesenian lainnya bisa menjadi stabilisator mood alami dan bermanfaat menyegarkan pikiran. Menghasilkan karya seni yang dapat dinikmati orang juga membantu seseorang untuk membangun harga diri, sesuatu yang penting bagi kesehatan mentalnya. Cobalah mendengarkan musik yang lembut. ...
Gangguan Pola Makan: Anoreksia dan Bulimia
Gangguan pola makan anoreksia nervosa dan bulimia nervosa banyak terjadi di kalangan remaja, terutama remaja putri. Adalah hal yang wajar bila remaja memerhatikan penampilan fisik mereka. Namun bila berlebihan maka bisa menjadi obsesif dan memengaruhi pola makan mereka. Pada awalnya si penderita biasanya hanya mencoba menurunkan berat badan atau ingin membentuk tubuh yang ideal, namun keinginan itu lama-kelamaan berubah menjadi obsesif dan di luar kendali. Anoreksia Nervosa Penderita anoreksia memiliki ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan ketidaksempurnaan bentuk tubuh mereka. Akibatnya, mereka mengurangi porsi dan frekuensi makan mereka secara ekstrim. Tanda-tanda seseorang terkena anoreksia: menjadi sangat kurus dan lemah/lesu karena kurang gizi terobsesi dengan waktu makan, jumlah/porsi makanan, dan kontrol berat badan menghindari makanan seperti susu, daging, nasi, gandum, dan lainnya yang dipandang dapat menaikkan berat badan sangat sering mengukur beratnya sendiri merasa kegemukan padahal tidak berolah raga berlebihan menarik diri dari kegiatan sosial, terutama pesta dan pertemuan yang melibatkan makanan mungkin terlihat depresi pada kondisi yang parah, wanita penderita anoreksia bisa berhenti haid. Bulimia Nervosa Bulimia ditandai dengan kebiasaan makan banyak, lalu mencoba mengkompensasi secara ekstrim, seperti memaksakan diri muntah atau berolahraga dengan keras. Misalnya, penderita suka "berpesat pora" menyantap makanan kesukaannya, lalu besok paginya dia berangkat ke pusat kebugaran untuk berolahraga sampai lemas. Penderita bulimia mungkin mengalami fluktuasi berat badan, tapi jarang sampai kurus seperti penderita anoreksia. Mereka memiliki berat badan normal atau bahkan gemuk. Untuk dapat didiagnosis bulimia, seseorang harus makan banyak dan "membersihkan dirinya" secara teratur, minimal dua kali seminggu selama beberapa bulan. Tanda-tanda seseorang terkena bulimia: takut kegemukan sangat senang dengan ukuran ...
6 Alasan Mengapa Gigi Harus Dicabut
Pencabutan atau ekstraksi gigi adalah pengambilan gigi dari soketnya di tulang. Berikut adalah alasan mengapa gigi harus dicabut:
1. Gigi telah rusak parah
Jika gigi rusak karena berlubang atau patah, dokter gigi Anda akan mencoba untuk memperbaikinya dan memulihkannya dengan menambal, memberi mahkota atau perawatan lainnya. Kadang-kadang, bila kerusakannya terlalu luas untuk diperbaiki maka gigi harus dicabut.
2. Gigi ekstra yang menganggu gigi lain
Beberapa orang memiliki gigi ekstra yang mendesak gigi lain dan menimbulkan masalah baik dalam fungsi maupun estetika gigi.
3. Menjalani perawatan yang menekan sistem kekebalan tubuh
Orang yang menjalani kemoterapi bisa mengembangkan infeksi gigi. Obat ini sangat kuat dan memperlemah sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan sehingga meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, bila ada gigi yang tidak sehat mungkin perlu dicabut sebagai pencegahan.
Orang yang akan menjalani transplantasi organ juga mungkin harus dicabut giginya bila gigi itu dikhawatirkan menjadi sumber infeksi pasca transplantasi. Pasien transplantasi organ rentan terhadap infeksi karena pasien harus meminum obat yang menekan sistem kekebalan tubuhnya.
4. Menjalani perawatan gigi kosmetik
Orang yang menjalani perawatan kawat gigi mungkin perlu dicabut giginya untuk menciptakan ruang bagi gigi yang sedang dipindahkan ke tempatnya.
5. Menerima terapi radiasi (radioterapi)
Orang yang menerima radiasi di kepala dan leher mungkin perlu dicabut giginya di wilayah yang diradiasi.
6. Geraham bungsu yang tumbuh mengganggu
Geraham bungsu, juga disebut geraham ketiga, sering dicabut baik sebelum atau setelah muncul. Gigi ini umumnya tumbuh di akhir masa remaja atau di awal dua puluhan. Geraham bungsu dapat terjebak dalam rahang dan sering harus dicabut jika membusuk atau menyebabkan rasa sakit. Geraham bungsu juga mungkin terhalang sebagian oleh gigi lain sehingga tidak memiliki cukup ruang untuk tumbuh sepenuhnya. Hal ini dapat mengiritasi gusi, menyebabkan rasa sakit dan bengkak, yang mengharuskan pencabutan gigi.
Jenis ekstraksi gigi
Ada dua jenis ekstraksi: ekstraksi gigi sederhana dan ekstraksi bedah.
- Ekstraksi gigi sederhana dilakukan pada gigi yang dapat dilihat dalam mulut. Dokter gigi umum dapat melakukan ekstraksi sederhana, dan kebanyakan dilakukan di bawah anestesi lokal, dengan atau tanpa obat antidepresan. Dalam ekstraksi sederhana, dokter gigi akan menjepit dengan forsep gigi dan menggoyang forsep bolak-balik untuk mengendurkan gigi sebelum mencabutnya. Kadang-kadang, suatu alat yang disebut luxator, yang ditempatkan antara gigi dan gusi, digunakan untuk membantu melonggarkan gigi.
- Ekstraksi gigi yang melibatkan pembedahan dilakukan untuk gigi yang tidak dapat dilihat dengan mudah di dalam mulut, baik karena patah di bawah permukaan gusi atau karena belum tumbuh. Ekstraksi bedah biasanya dilakukan oleh dokter spesialis bedah mulut. Pembedahan dapat dilakukan dengan bius lokal atau umum. Pasien dengan kondisi medis khusus dan anak-anak dapat diberikan anestesi umum. Dalam ekstraksi bedah, dokter harus membuat sayatan pada gusi Anda untuk menjangkau gigi. Dalam beberapa kasus, gigi tersebut harus dipecah menjadi beberapa bagian sebelum dicabut. Jika Anda membutuhkan geraham bungsu untuk dicabut, maka biasanya gigi itu akan dikeluarkan pada saat yang sama.
Gigi atas biasanya lebih mudah dicabut dibandingkan gigi bawah. Gigi yang miring ke samping bisa lebih sulit dicabut dibandingkan yang tumbuh vertikal.
sumber: colgate-palmolive
Infeksi yang Menular dari Ibu ke Bayi
Bayi dapat tertular penyakit infeksi ibunya melalui berbagai cara. Di uterus (rahim), bayi tumbuh dalam lingkungan yang steril. Namun, bila selaput ketuban ibu rusak karena suatu sebab, bayi dapat terinfeksi oleh penyakit. Selama persalinan, bayi bisa menelan atau mengirup cairan pada jalan lahir, dan bakteri atau virus bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kebanyakan mikroba yang berkembang di area intim wanita tidak berbahaya, tetapi ada juga yang berbahaya seperti bakteri GBS atau virus herpes kelamin (genital). Bayi juga dapat terinfeksi virus melalui plasenta yang memasok nutrisi dan oksigen baginya selama di dalam kandungan.
1. Streptokokus Grup B (GBS)
Bakteri GBS dapat berkoloni di jalan lahir bayi. Bakteri ini menginfeksi sekitar 25% perempuan di seluruh dunia, tetapi kebanyakan tidak menimbulkan gejala. Bayi dapat terinfeksi oleh bakteri ini di dalam rahim atau pada saat lahir. Bayi prematur dan bayi lahir berat badan rendah lebih berisiko terkena GBS. Jika ibu telah memiliki bayi sebelumnya dengan infeksi GBS, tindakan pencegahan harus diambil.
Kebanyakan bayi yang terinfeksi GBS tidak mengembangkan masalah, namun bila berkembang maka bisa menimbulkan infeksi aliran darah (sepsis), infeksi paru (pnemonia) atau infeksi cairan dan selaput otak (meningitis) yang mematikan.
Gejala infeksi GBS seperti demam, nafas tersengal/sesak, detak jantung tak beraturan, lesu, kejang, dll dapat terlihat dalam beberapa hari pertama setelah lahir. Namun, dalam kasus tertentu, gejala infeksi dapat terlihat 1 minggu s.d. 3 bulan setelah lahir (late onset). Bayi biasanya harus diberi antibiotik melalui infus di rumah sakit jika mereka menunjukkan tanda-tanda tidak sehat.
GBS adalah bakteri yang sulit diberantas. Namun, jika seorang wanita diketahui berisiko tinggi menularkan infeksi bakteri ini, antibiotik suntik yang kuat biasanya dapat mencegah penularan dari ibu ke bayi. Dokter juga mungkin merekomendasikan persalinan melalui bedah caesar yang lebih aman. Bakteri ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan vagina, dubur atau urin ibu.
2. Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis dapat ditularkan baik melalui plasenta di dalam rahim, menghirup atau menelan cairan yang terinfeksi saat kelahiran, atau menghirup udara yang mengandung kuman TBC setelah lahir. Sekitar 50% anak yang lahir dari ibu penderita TBC paru aktif mengembangkan penyakit ini selama tahun pertama kehidupan jika vaksin BCG tidak diberikan. Bayi penderita TBC dapat terlihat mengalami demam, lesu, gangguan pernapasan, pembengkakan hati (hepatosplenomegali), atau gagal tumbuh. Pengobatan TBC bayi biasanya menggunakan INH/isoniazid dan rifampisin.
3. Herpes simplex
Virus herpes simplex dapat ditularkan ketika bayi masih di dalam rahim, saat melewati jalan lahir atau tepat setelah kelahiran (postpartum). Herpes tipe 2 (herpes kelamin) adalah penyebab paling umum infeksi herpes pada bayi baru lahir, tapi herpes tipe 1 (herpes mulut) juga dapat terjadi. Virus ini dapat mengakibatkan banyak komplikasi yang berakibat buruk bagi bayi, seperti kebutaan dan cerebral palsy.
Jika ibu mengidap infeksi herpes kelamin aktif pada saat persalinan, bayi lebih mungkin terinfeksi selama proses kelahiran. Beberapa ibu tidak sadar kalau memiliki herpes kelamin aktif, jadi penting bagi mereka untuk memberitahu dokter jika mereka memiliki riwayat herpes kelamin. Selain itu, beberapa orang pernah terinfeksi herpes di masa lalu, tetapi tidak mengetahuinya. Mereka tanpa menyadari dapat menularkan virus itu ke bayi mereka.
Infeksi virus herpes pada bayi umumnya diobati dengan obat yang diberikan melalui vena (intravena). Acyclovir merupakan obat antivirus yang paling umum digunakan untuk tujuan ini. Bayi mungkin harus minum obat ini selama beberapa minggu.Terapi lainnya adalah mengobati efek dari infeksi, seperti shock atau kejang. Seringkali, bila bayi sakit parah, pengobatan dilakukan di unit perawatan intensif (neonatal intensive care).
4. Hepatitis B dan C
Ibu yang terinfeksi virus hepatitis B berisiko menularkan virus tersebut kepada bayinya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau darahnya pada saat persalinan. Hepatitis B pada bayi yang baru lahir biasanya tidak menimbulkan gejala. Bila ada gejala, maka gejalanya adalah penyakit kuning, lesu, pertumbuhan terhambat, distensi perut, dan kotoran berwarna coklat. Imunisasi dapat membantu mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi.
Virus hepatitis C, meskipun sangat jarang terjadi, dapat ditularkan ibu ke bayinya pada saat persalinan melalui kontak langsung dengan darah ibu yang terinfeksi. Wanita dengan tingkat virus hepatitis C yang rendah dalam darah mereka kecil kemungkinannya menularkan virus itu ke bayi mereka. Wanita dengan tingkat virus yang tinggi, mereka yang mengalami kerusakan hati parah atau pada fase akut dari infeksi, berisiko lebih tinggi untuk menularkan hepatitis C ke bayi mereka. Infeksi hepatitis C biasanya tidak menimbulkan gejala.
5. HIV/AIDS
HIV adalah salah satu virus mematikan yang menimbulkan penyakit AIDS. Bayi dapat terinfeksi oleh virus ini selama masa kehamilan atau persalinan. Jika seorang wanita hamil dengan HIV positif, kemungkinan besar bayinya juga terinfeksi oleh HIV. Menyusui juga dapat menularkan virus ini ke bayi.
Bayi yang terinfeksi HIV mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun saat lahir. Namun, dalam 2 sampai 3 bulan dia dapat mengembangkan infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang berkembang karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pneumonia, tuberkulosis, jamur mulut (sariawan), dll.


