Bagaimana Memahami Hasil Tes Urine Anda

Air seni atau urine berisi berbagai zat limbah yang dikeluarkan dari tubuh. Namun, selain membuang limbah, urine juga berisi informasi mengenai apa yang terjadi di tubuh Anda. Urine yang mengandung glukosa, terlalu banyak protein, atau zat lainnya dapat menjadi pertanda masalah kesehatan. Urine dapat dievaluasi dari penampilan fisiknya, kandungan zat kimia dan zat mikroskopik di dalamnya. Sedemikian banyak informasi yang dapat kita peroleh dari urine sehingga ada lebih dari 100 tes yang berbeda dapat dilakukan pada urine.

Tes urine digunakan secara luas untuk skrining, diagnosis dan memantau efektivitas pengobatan. Tes urine rutin dapat dilakukan ketika Anda dirawat di rumah sakit atau menjadi bagian dari medical checkup, uji kehamilan atau persiapan operasi.

Penampilan fisik urine

Penampilan fisik urine bisa dilihat dengan pemeriksaan visual. Selama pemeriksaan visual, dokter atau staf laboratorium dapat mengamati warna, kejernihan dan baunya yang akan dikonfirmasi dengan pemeriksaan kimia dan mikroskopis. Penampilan fisik urine yang dapat dilihat dengan observasi langsung adalah:

  1. Warna. Warna urine dapat bervariasi dari bening kekuningan sampai gelap kecoklatan. Banyak hal yang berpengaruh pada warna urine, termasuk banyaknya cairan yang Anda minum, jenis makanan yang Anda makan, obat-obatan yang Anda ambil dan penyakit tertentu yang Anda miliki. Bila Anda kurang minum, warna urine cenderung gelap. Dehidrasi dan demam juga menyebabkan urine lebih pekat sehingga berwarna lebih gelap. Bila Anda memakan bit merah, warna urine Anda akan kemerahan karena pigmen bit yang dikeluarkan. Suplemen vitamin B dapat membuat urine berwarna kuning cerah. Obat-obatan dan darah dapat membuat urine berwarna merah kecoklatan.
  2. Kejernihan. Urine biasanya jernih. Banyak zat yang dapat menyebabkan urine menjadi keruh. Zat yang menyebabkan kekeruhan namun dianggap normal adalah lendir, sperma dan cairan prostat, sel-sel kulit, kristal urine normal, dan kontaminan seperti salep dan bedak. Zat lain yang bisa membuat urine keruh dan mengindikasikan penyakit adalah sel darah merah, sel darah putih atau bakteri.
  3. Bau. Urine berbau sedikit pesing yang khas. Beberapa penyakit menyebabkan perubahan bau urine, misalnya infeksi bakteri E. coli menyebabkan bau tidak sedap dan diabetes menyebabkan bau amis.

Zat kimia di urine

Komposisi kimia urine diketahui dengan pemeriksaan kimia. Untuk keperluan ini, staf laboratorium menggunakan strip-strip reagan yang berisi bahan kimia tertentu. Ketika strip dicelupkan ke dalam urine, strip akan menyerap urine dan reaksi kimia akan mengubah warnanya dalam hitungan detik atau menit. Staf laboratorium atau komputer akan membandingkan perubahan warna pada setiap reaksi dengan bagan warna masing-masing strip penguji untuk menentukan hasil tes. Jenis dan tingkat perubahan warna memberikan jenis dan kadar zat-zat kimia tertentu yang hadir di urine.

Kandungan urine yang dapat diketahui dengan pemeriksaan kimia antara lain:

  1. Kepekatan. Kepekatan urine (disebut juga osmolalitas atau specific gravity) dapat dihitung dengan berat jenisnya. Berat jenis adalah perbandingan berat urine dengan air murni dalam volume yang sama. Semakin banyak bahan padat dalam urine, semakin tinggi berat jenis urine. Ketika Anda minum banyak cairan, ginjal akan membuat urine yang encer sehingga berat jenisnya rendah. Bila Anda tidak minum cukup cairan, ginjal Anda membuat urine yang pekat sehingga berat jenisnya tinggi. Mengetahui kepekatan urine membantu penyedia layanan kesehatan memutuskan apakah sampel urine yang mereka dapatkan adalah yang terbaik untuk mendeteksi zat tertentu. Misalnya, jika mereka mencari jumlah protein yang sangat kecil di urine, sampel urine yang pekat di pagi hari adalah yang terbaik.
  2. Keasaman. Ginjal berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Oleh karena itu, kondisi apapun yang menghasilkan asam atau basa dalam tubuh atau konsumsi makanan yang bersifat asam atau basa, secara langsung dapat memengaruhi pH urine. Keasaman diukur dengan pH.  Urine bersifat asam jika pH-nya kurang dari 7, bersifat basa jika pH-nya lebih dari 7. Urine yang bersifat asam berkaitan dengan risiko penyakit asam urat dan batu ginjal. Sebagian besar penyakit degeneratif berkaitan dengan defisiensi mineral yang menyebabkan cairan tubuh, termasuk urine, menjadi lebih asam. Diet dapat digunakan untuk mengendalikan pH urine. Diet tinggi protein akan membuat urine lebih asam. Diet vegetarian, diet rendah karbohidrat, atau konsumsi buah akan membuat urine lebih basa.
  3. Protein. Protein biasanya tidak ditemukan dalam urine. Demam, olahraga keras, kehamilan, dan beberapa penyakit dapat menyebabkan protein berada dalam urine. Kondisi di mana terdapat protein di dalam urine disebut proteinuria. Albumin adalah jenis protein yang lebih kecil dari protein lainnya dan keberadaannya dalam urine mengindikasikan tahap awal kerusakan ginjal. Keberadaan albumin dalam urine disebut albuminuria. Kondisi lain yang dapat menyebabkan proteinuria adalah gangguan yang meningkatkan protein dalam darah, seperti multiple myeloma, kerusakan sel-sel darah merah, peradangan, keganasan (kanker), atau cedera pada saluran kemih.
  4. Glukosa. Glukosa adalah jenis gula yang ditemukan dalam darah. Biasanya glukosa sangat sedikit atau tidak ada dalam urine. Ketika tingkat gula darah sangat tinggi– seperti pada diabetes yang tidak terkontrol– ginjal mengekskresikan glukosa ke dalam urine untuk mengurangi konsentrasinya di darah. Keberadaan glukosa dalam urine, yang disebut glukosuria, juga dapat disebabkan oleh gangguan hormonal, penyakit hati, obat-obatan, dan kehamilan. Ketika terjadi glukosuria, tes lain seperti tes glukosa darah biasanya dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab yang lebih spesifik.
  5. Keton. Bila karbohidrat tidak tersedia, tubuh memetabolisme lemak untuk mendapatkan energi yang dibutuhkan. Pemecahan lemak untuk energi menghasilkan zat limbah yang disebut keton. Keton biasanya tidak ditemukan dalam urine. Sejumlah besar keton dalam urine dapat menunjukkan kondisi sangat serius yang disebut ketoasidosis diabetik. Diet rendah gula dan karbohidrat, kelaparan, atau muntah parah juga dapat menyebabkan keton berada di urine (ketonuria).
  6. Nitrit. Bakteri yang menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) membuat enzim yang mengubah nitrat menjadi nitrit. Nitrit dalam urine menunjukkan adanya infeksi saluran kemih (ISK).
  7. Esterase leukosit. Esterase leukosit adalah enzim yang ditemukan dalam sel-sel darah putih. Kehadiran esterase leukosit di urine merupakan pertanda peradangan, yang umumnya disebabkan oleh infeksi saluran kemih.

Zat mikroskopik di urine

Kandungan zat-zat mikroskopik dalam urine dapat dilihat melalui mikroskop. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan sebagai tindak lanjut temuan abnormal pada pemeriksaan fisik atau kimia. Sebelum diperiksa di bawah mikroskop, urine diproses sentrifugasi untuk memisahkan komponen cairan dan padatannya. Zat-zat padat di dalamnya akan mengendap di bagian bawah tabung. Cairan di bagian atas tabung kemudian dibuang dan sedimen yang tersisa diperiksa di bawah mikroskop. Sel, kristal, dan zat lainnya dihitung dan dilaporkan secara agregat dan spesifik masing-masing.

Kandungan urine yang dapat diperiksa dengan analisis mikroskopik antara lain:

  1. Sel darah merah (eritrosit). Biasanya, sel darah merah hanya sedikit hadir dalam urine. Peradangan, cedera, atau penyakit di ginjal atau di tempat lain di saluran kemih dapat menyebabkan sel darah merah bocor dari pembuluh darah ke dalam urine. Sel darah merah juga bisa merupakan kontaminan karena koleksi sampel yang tidak benar sehingga tercampur darah dari wasir atau menstruasi. Kadang-kadang, tes kimia darah dalam urine negatif tetapi pengujian mikroskopis menunjukkan peningkatan jumlah sel darah merah. Bila hal ini terjadi, staf laboratorium akan menguji kandungan asam askorbat (vitamin C) di urine karena vitamin C dapat menyebabkan hasil tes menjadi rendah atau negatif palsu.
  2. Sel darah putih (leukosit). Jumlah leukosit dalam urine biasanya rendah. Jumlahnya yang tinggi dapat menunjukkan infeksi atau peradangan di saluran kemih. Leukosit juga bisa menjadi kontaminan, misalnya dari sekresi vagina.
  3. Sel epitel. Sel-sel epitel dari kandung kemih atau uretra dapat ditemukan dalam urine. Sel-sel dari ginjal kurang umum. Ketika saluran kemih bermasalah karena infeksi, peradangan, dan keganasan, sel-sel epitel lebih banyak hadir di urine. Jenis sel epitel menunjukkan secara tepat di mana kondisinya berada.
  4. Mikroorganisme. Saluran kemih seharusnya steril sehingga tidak akan ada mikroorganisme dalam urine. Kehadiran bakteri di urine menandakan infeksi. Bakteri dapat memasuki saluran kemih melalui uretra dan naik ke kandung kemih, menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK). Jika infeksi tidak diobati, pada akhirnya infeksi dapat bergerak ke ginjal dan menyebabkan pielonefritis. Kurang sering, bakteri dari infeksi darah (septikemia) dapat pindah ke saluran kemih. Bakteri juga dapat merupakan kontaminan, terutama pada wanita, di mana bakteri yang biasanya hidup di kulit atau di cairan vagina mengontaminasi urine. Jamur juga dapat hadir dalam urine, terutama pada wanita yang memiliki infeksi jamur vagina. Jika jamur teramati dalam urine, maka tes untuk infeksi jamur dapat dilakukan pada cairan vagina.
  5. Kristal. Urine mengandung banyak bahan limbah dari tubuh. Zat-zat ini dapat membentuk padatan kristal yang tidak beraturan atau seperti jarum. Kristal dianggap normal jika berasal dari zat terlarut yang biasanya ditemukan dalam urine. Beberapa contoh dari kristal yang dapat ditemukan dalam urine orang yang sehat adalah kristal asam urat, kalsium oksalat, kalsium karbonat, dll. Jika kristal berasal dari zat yang seharusnya tidak ada dalam urine, seperti kristal sistin dan tirosin, maka dapat mengindikasikan masalah metabolisme. Obat-obatan dan pewarna kontras sinar-x- juga dapat mengkristal di dalam urine.
  6. Bilirubin. Bilirubin adalah produk limbah dari sel darah merah yang dibuang dari peredaran oleh hati. Zat ini menjadi bagian dari cairan empedu yang disekresikan ke usus untuk membantu pencernaan makanan. Bilirubin tidak hadir dalam urine normal. Pada penyakit tertentu, seperti obstruksi bilier atau hepatitis, bilirubin bocor kembali ke aliran darah dan diekskresikan ke urine. Kehadiran bilirubin dalam urine merupakan indikator awal penyakit hati (liver).
  7. Urobilinogen. Urobilinogen biasanya hadir dalam urine dalam konsentrasi rendah. Zat ini terbentuk di dalam usus dari bilirubin dan sebagian diserap kembali ke dalam aliran darah. Konsentrasi tinggi urobilinogen di urine mengindikasikan penyakit seperti hepatitis, sirosis hati dan anemia hemolitik.

Catatan untuk Anda

Hasil pemeriksaan urine dapat memiliki banyak interpretasi. Temuan abnormal mengindikasikan ada sesuatu yang salah dan perlu dievaluasi lebih lanjut. Semakin besar deviasi dari normal, semakin besar kemungkinan adanya masalah. Namun, hasil normal tidak menjamin bahwa tidak ada penyakit. Beberapa orang tidak memberikan kondisi abnormal dalam tes urine di awal proses penyakit, dan  yang lainnya memberikan kondisi abnormal secara sporadis sepanjang hari sehingga tidak terdeteksi oleh sampel urine tunggal. Selain itu, bila urine sangat encer maka bahan kimia dalam jumlah kecil mungkin tidak terdeteksi. Dokter Anda harus menganalisis hasil tes urine dengan gejala dan temuan klinis lain untuk menegakkan diagnosis.

Artikel/Konsultasi Terkait

Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!