Dok…Anakku Kok Tidak Punya Buah Zakar?

Pertanyaan seperti itu cukup sering disampaikan para orang tua mengenai bayi laki-laki mereka yang baru lahir. Ketika melihat kantong zakar (skrotum) sang bayi, mereka mendapati bentuknya lebih kecil dan datar. Hal ini tentu membuat mereka cemas.

'Boys' photo (c) 2011, Alberto Alonso G - license: http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/

Ketiadaan buah zakar (testis) di skrotum bisa disebabkan karena testis tidak berkembang sama sekali atau mengerut sebelum kelahiran karena hambatan suplai darah. Namun, yang lebih banyak terjadi adalah testis bukannya tidak ada, tetapi tidak turun. Testis dapat dirasakan di daerah pangkal paha atau mungkin masih di dalam rongga perut. Jika Anda mengamati bahwa testis bayi Anda tidak ada atau tidak turun ke dalam skrotum, segeralah berbicara dengan dokter Anda. Diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu mencegah masalah kesuburan atau kesehatan di kemudian hari.

Diperkirakan sekitar 3-5% bayi baru lahir memiliki testis yang tidak turun, yang dalam bahasa medis disebut kriptorkidismus (cryptorchidism). Pada bayi yang lahir prematur, insidennya bahkan lebih sering lagi yaitu mencapai 30%. Lebih dari 80% kriptorkidismus hanya terjadi pada satu sisi testis saja.

Kriptorkidismus harus dibedakan dengan kondisi lain yang disebut testis retraktil. Dalam kondisi ini, skrotum hanya kadang-kadang saja terlihat kosong. Ketika anak tidur atau santai, kedua testis akan turun sendiri secara spontan. Dokter juga bisa menarik testis ke dalam skrotum pada pemeriksaan rutin. Ini adalah kondisi normal yang tidak memerlukan perawatan. Setelah usia remaja awal ketika testis menjadi lebih berat dan lebih besar, testis akan menetap permanen di skrotum.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis kriptorkidismus, dokter akan memeriksa daerah pangkal paha bayi Anda, dari pinggang sampai ke skrotum. Dokter akan mencoba untuk menemukan testis di kanalis inguinalis atau di tempat lain di daerah selangkangan. Ronsen, USG, MRI  dapat menemukan testis di perut. Jika testis tidak dapat ditemukan melalui ronsen, USG, atau MRI, teknik laparoskopi mungkin diperlukan. Laparoskopi melibatkan kamera video kecil yang biasanya dimasukkan di daerah perut dan dinavigasi ke pangkal paha untuk menemukan testis. Pilihan pengobatan akan dipertimbangkan setelah testis ditemukan.

Mengapa testis tidak turun?

Dalam perkembangan janin laki-laki di dalam rahim, testis mulai tumbuh di perut dan kemudian berpindah ke skrotum melalui kanalis inguinalis di pangkal paha di bulan ketujuh sampai kesembilan kehamilan. Perpindahan testis ini digerakkan oleh pengaruh hormonal dan struktur anatomi lain yang disebut gubernaculum, yang dapat dibayangkan sebagai sebuah kabel yang menarik testis ke dalam skrotum.

Pada beberapa anak laki-laki, penurunan salah satu atau kedua testis tidak berlangsung sempurna. Testis dapat “tersangkut” di suatu tempat sepanjang perjalanan dari perut ke skrotum. Bayi prematur lebih banyak yang memiliki testis tidak turun karena mereka lahir di saat proses penurunan belum selesai.

Apa yang harus dilakukan?

Testis yang tidak turun biasanya akan turun sendiri di beberapa bulan pertama setelah lahir. Bila penurunan tidak terjadi setelah usia satu tahun, bayi Anda akan disarankan untuk menjalani terapi untuk menurunkan testis.

Jika testis tidak turun ke dalam skrotum pada usia dini, kesuburan cenderung menurun. Risiko infertilitas minimal jika hanya satu testis yang tidak turun dan lebih signifikan jika keduanya terpengaruh. Pengaruh buruk dari testis yang tidak turun terhadap kemampuan produksi sperma dapat dimulai sejak usia 9 sampai 18 bulan. Setelah tahun kedua, terjadi penurunan kesuburan potensial signifikan, terutama jika testis berada di perut. Semakin tinggi testis berada di atas skrotum, semakin abnormal fungsinya. Testis yang baru diturunkan melalui operasi pada usia 4 tahun ke atas tidak akan menghasilkan sperma secara normal. Hal ini terjadi karena temperatur yang lebih tinggi di luar skrotum. Produksi sperma membutuhkan suhu 1 sampai 2 derajat lebih dingin daripada suhu tubuh.

Selain itu, sebuah testis yang tidak turun meningkatkan risiko kanker testis di usia dewasa. Jenis kanker yang langka tersebut sepuluh kali lebih sering terjadi pada pria dengan testis tidak turun. Antara 3 – 5 persen pria penderita kriptorkismus akan mengembangkan kanker testis. Selain itu, testis yang tidak turun juga lebih rentan terhadap cedera, terutama bila berada di pangkal paha. Testis membutuhkan skrotum yang elastis dan fleksibel agar terlindung dari trauma fisik.

Penanganan

Bedah koreksi terhadap testis yang tidak turun (disebut orkiopeksi/orkidopeksi) biasanya dianjurkan pada usia 9-12 bulan. Dalam bedah di  bawah anestesi umum ini, sebuah sayatan kecil dibuat di pangkal paha dan satu lagi di skrotum untuk menurunkan dan menempatkan testis ke tempatnya. Testis yang tidak turun seringkali juga disertai hernia inguinalis, yaitu kondisi di mana usus berpindah dari perut ke dalam skrotum melalui pangkal paha. Hernia dapat sekaligus diperbaiki dalam pembedahan tersebut.

Pada testis yang menyusut kecil di kanalis inguinalis atau skrotum, mungkin lebih baik untuk membuang testis setelah memastikan bahwa testis sisi lainnya normal. Dokter bedah bisa menunggu sampai pubertas untuk membuang testis yang menyusut atau abnormal itu karena masih dapat menghasilkan hormon dan beberapa manfaat. Jika testis tidak ada, prostesis (tiruan) testis dapat ditempatkan beberapa saat setelah pubertas. Fungsinya adalah untuk memberikan rasa percaya diri pada anak.

Orkiopeksi berhasil pada lebih dari 90% kasus. Dokter akan memantau anak Anda beberapa minggu setelah pembedahan untuk memastikan proses penyembuhan. Dalam beberapa kasus, kerusakan pada pembuluh darah testis dapat menyebabkan testis mengecil atau gagal tumbuh. Kadang-kadang, testis yang dibawa ke dalam skrotum melalui pembedahan akan meluncur kembali ke pangkal paha, biasanya di beberapa minggu pertama setelah operasi. Prosedur kedua mungkin diperlukan untuk memperbaiki masalah ini.

Karena turunnya testis sebagian diatur oleh hormon, penurunan kadang-kadang dapat didorong dengan terapi hormon menggunakan human chorionic gonadotropin (hCG). HCG diberikan melalui suntikan, umumnya dua kali seminggu selama empat minggu. Tingkat kesuksesan terbaik dilaporkan pada testis yang terletak jauh dari skrotum.

Potensi kesuburan

Kesuburan pada pasien kriptorkidismus satu sisi yang tidak dikoreksi dilaporkan antara 30% dan 60%. Kesuburan pada pasien kriptorkidismus satu sisi yang diperbaiki sebelum usia 9 tahun adalah hampir 85%. Pria dengan kedua sisi testis tidak turun 100% tidak subur, meskipun produksi testosteron seringkali normal. Jika orkiopeksi untuk kriptorkidismus dua sisi dilakukan pada anak sebelum usia 5 tahun, 50% menjadi subur, dan 30% memiliki jumlah sperma normal. Pasien yang menjalani orkiopeksi dua sisi sebelum usia 2 tahun dilaporkan lebih dari 65% memiliki kesuburan, sedangkan pasien yang diperbaiki setelah usia 13 tahun hanya 12% yang memiliki kesuburan.

Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!