Iodium, Unsur Kelumit Berdaya Ungkit

Oleh: Ina Kusrini dan Muhamad Arif Musoddaq )*

iodineIodium. Mungkin anda pernah mendengarnya. Di bangku sekolah iodium merupakan unsur halogen, non logam yang berada di deretan no 7 tabel periodik mata pelajaran kimia. Untuk memudahkan dalam menghafalkan siswa bersama F (Fluor), Cl (Klor), Br (Brom) dan At (Astatin). Di masyarakat istilah iodium dikenal melekat dengan istilah “Garam beriodium”.

Dalam buku Iodine yang ditulis oleh Freedy dkk pada tahun 2009, Iodium adalah unsur kelumit yang dibutuhkan kelenjar tiroid dalam tubuh manusia yang digunakan dalam proses metabolism tubuh. Mengapa disebut unsur kelumit ? Iodium disebut unsur kelumit karena dibutuhkan tubuh dengan jumlah sangat kecil. Pada orang dewasa, kebutuhan iodium hanya sebesar 150 µg/hari, anak anak sebesar 120 µg/hari dan pada wanita hamil dan menyusui sebesar 250 µg/hari.

Di alam unsur iodium berbentuk Iodated (IO3) atau Iodide (I-) yang tersebar berbeda-beda sesuai kedalaman dan kondisi geografis suatu wilayah. Iodium pada dasarnya tersedia di alam, namun pada suatu kondisi geografis tertentu seperti pegunungan, ketersediaan iodium di alam bisa sangat kurang. Sehingga masyarakat yang tinggal di wilayah kurang iodium dan tidak mendapatkan tambahan iodium dari luar bisa berakibat munculnya gangguan akibat kekurangan iodium.

Seberapa bahaya gangguan akibat kekurangan iodium?

Menurut Djokomoeljanto, ahli Endokrinologi dari Universitas Diponegoro Semarang, gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) merupakan sekumpulan gejala akibat kekurangan asupan iodium yang akan hilang dengan pemberian asupan iodium. GAKI salah satunya bermanifestasi menjadi membesarnya kelenjar tiroid (gondok), dampak yang lain pada kondisi kekurangan iodium berat saat hamil dapat berakibat kerusakan otak janin yang tidak dapat diperbaiki, kematian tidak cukup bulan, lahir mati, gangguan pertumbuhan (stunting) dan kelemahan fisik, kematian bayi; kegagalan reproduksi; hipotiroid; kerusakan perkembangan sistem syaraf; serta gangguan fungsi mental. Pada anak sekolah kekurangan iodium juga berkaitan dengan menurunya score IQ pada anak anak yang tinggal di daerah defisiensi iodium. Disinilah mengapa iodium disebut berdaya ungkit karena kecukupan iodium berkaitan erat dengan kecerdasan sebuah generasi.

Bagaimana agar tidak terkena dampak gangguan akibat kekurangan iodium ?

Pemerintah telah mencanangkan program “Garam beriodium untuk semua“. Artinya semua rumah tangga di Indonesia ditargetkan menggunakan garam yang memenuhi syarat. Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional memberikan batas minimal kadar iodium dalam garam dalam bentuk KIO3 adalah sebesar 30 ppm. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, di Indonesia konsumsi garam beriodium memenuhi syarat dengan uji kuantitaif masih sebesar 44.7% . Artinya sebagian besar masyarakat di Indonesia masih menggunakan garam yang belum sesuai dengan standar yang ditetapkan. Disini kesadaran dan peran dari masyarakat untuk pencegahan dampak dari GAKI menjadi penting. Masyarakat harus jeli dalam pemilihan garam yang beriodium, karena masih banyak pula beredar garam yang tidak memenuhi syarat.

Bagaimana memilih garam beriodium yang baik?

Cara paling mudah adalah memilih garam yang telah mencantumkan kadar KIO3 sebesar 30 ppm dalam kemasannya (1), selanjutnya pilih garam yang kering / tidak lembab (2), berwarna putih (3) dan berjenis halus (4). Mengapa demikian karena pemberian iodium dalam garam ( fortifikasi) akan dapat tercampur baik pada garam jenis halus, sedangkan pada garam jenis bata / krosok dimungkinkan iodium yang diberikan tidak merata. Setelah pembelian, maka penyimpanan garam juga hal yang harus di perhatikan, karena sifat iodium yang mudah menguap. Jauhkan dari api (1) dan simpan pada wadah yang kering dan tertutup (2) untuk menjaga kualitas iodium dalam garam tetap baik. Pemberian garam sebagai garam meja lebih diutamakan untuk mencegah proses kehilangan iodium melalui proses pemasakan.

Selain garam beriodium makanan apa saja yang bisa menjadi sumber iodium? Sumber iodium bisa didapatkan dari makanan. Beberapa makanan yang merupakan sumber iodium tinggi adalah makanan yang berasal dari laut. Ikan laut, udang, rumput laut meupun hasil olahannya seperti abon ikan, ikan asin, bakso ikan adalah jenis sumber iodium tinggi yang bisa dijadikan alternative sumber iodium selain garam.

————————
Tentang Penulis:

Ina Kusrini dan Muhamad Arif Musoddaq adalah Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium.

Sumber :

  • Djokomoeljanto. 2005. Iodine Deficiency Disorders (IDD). Thyroidology Update 1, PERKENI Semarang.
  • Dunn, J.T. 2001. The Global Challenge of Iodine Deficiency. Kumpulan Naskah Pertemuan Ilmiah Nasional Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKI) 2001. p.19-24. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang
  • Freedy V.,Burrow G.,Watson R. 2009. Comprehensive handbook of iodine .Elsevier academic press.California
  • Hetzel B.S. 1993. The damaged brain of iodine deficiency, dalam: Djokomoeljanto. Spektrum klinik gangguan akibat kekurangan iodium: dari gondok hingga kretin endemik. Jurnal GAKY Indonesia: vol.2, No.1, Des 2002. Pusat GAKY Undip, Semarang.
  • Kementerian kesehatan RI,2013. Laporan Riset Kesehatan dasar 2013. Badan Litbang Kesehatan.Jakarta
  • WHO. 2007. Assessment of Iodine Deficiency Disorders and Monitoring Their Elimination: A guide for programme managers. Third edition, Geneva
Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!