Khitan, Langkah Awal Cegah AIDS

Oleh : Suci Pujiati, M.Epid'HIV Prevalence - 15-49 year olds - 2008 UNAIDS Report' photo (c) 2010, Blatant World - license: http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/

Khitan atau sunat (sirkumsisi) adalah tindakan medis berupa pembuangan sebagian atau seluruh bagian dari kulit luar penis (foreskin) yang membungkus glans atau kepala penis. Di Indonesia, khitan banyak dilakukan pada anak laki-laki yang belum mencapai usia baligh (dewasa secara seksual). Pengambilan keputusan untuk khitan biasanya didasari oleh keyakinan agama, di mana mayoritas penduduk beragama Islam dan mewajibkan para laki-laki untuk melakukan khitan.

Sejak abad ke 19, banyak praktisi kesehatan yang menyakini bahwa khitan dapat menjaga kebersihan dan higinitas penis lebih baik dibandingkan dengan pria yang tidak dikhitan. Akibatnya khitan sudah banyak dilakukan terhadap anak laki-laki, dan menjadi praktek yang meluas baik di Eropa maupun Amerika. Di Amerika Serikat sebanyak 1,2 juta bayi laki-laki disunat setiap tahunnya. Pengambilan keputusan khitan bervariasi mulai dari keyakinan agama hingga upaya preventif untuk menjaga kesehatan personal.

Tidak seperti di Indonesia, proses khitan di Amerika dilakukan pada bayi laki-laki yang baru lahir (newborn), umumnya pada 10 hari pertama kehidupannya. Hal ini didasarkan pada temuan yang diliris oleh Academy of Pediatrics yang menyebutkan bahwa koloni bakteri yang tumbuh dan berkembang di dalam kulit luar penis atau kulup pada 6 bulan pertama kehidupan menjadi faktor resiko peningkatan infeksi saluran kemih atau urinary tract infection (UTI). Koloni bakteri tersebut akan berkurang dengan sendirinya setelah usia 6 bulan, hal tersebut dapat terjadi karena kulup dapat ditarik ke belakang seiring dengan pertambahan usia. Dua sampai 10% insiden UTI ditemukan pada usia 6 bulan pertama dan kasus yang paling signifikan yaitu sebesar 21% terjadi pada bulan pertama kehidupan. Di sisi lain proses penyembuhan pasca khitan juga berkaitan dengan umur. Pada bayi, proses penyembuhan khitan memakan waktu yang relatif singkat yaitu selama 7-10 hari, sedangkan pada anak-anak dan pria dewasa proses penyembuhan membutuhkan waktu lebih lama yaitu 3-6 minggu.

Khitan memiliki banyak manfaat medis bagi tubuh, walaupun American Academy of Pediatrics (AAP) mengklaim manfaat yang didapat juga sebanding dengan risiko dan trauma yang dialami. Tentunya ini merupakan hal yang wajar,  jika ditilik dari dininya usia bayi saat menjalani operasi khitan. Dari beberapa studi komprehensif diketahui bahwa bayi akan mengalami trauma dan rasa sakit yang mendalam bahkan ada beberapa bayi yang tidak menangis saat khitan berlangsung karena mengalami syok trumatis saat operasi.

Berikut adalah beberapa manfaat khitan bagi tubuh :

  1. Berdasarkan penelitian yang diliris dalam Oxford Journal of The National Cancer Institute oleh Christoper Maden et al, khitan dapat mengurangi risiko kanker penis pada pria, walaupun penyakit ini jarang terjadi. Pertumbuhan karsinoma pada sel squamosa penis meningkat 3,4 kali lipat lebih besar pada pria yang tidak pernah disunat dan 3 kali lipat pada anak laki-laki yang disunat setelah periode neonatal. Banyak kasus kanker penis yang berkembang di dalam kulup. Faktor risiko utama terkait dengan phimosis dan higinitas genital yang buruk.
  2. Seperti telah diuraikan sebelumnya, khitan dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih (urinary tract infections/UTI).  Berdasarkan studi yang dilakukan oleh D Singh Grewal dan dipublikasikan dalam British Medical Journal,  risiko terkena infeksi ini dapat meningkat 10 kali lebih besar pada pria yang tidak dikhitan dibandingkan dengan pria yang dikhitan. Walaupun infeksi ini lebih banyak ditemui pada bayi usia 6 bulan pertama, namun tidak menutup kemungkinan infeksi dapat terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Sekitar 4% anak laki-laki setidaknya pernah mengalami satu kali UTI sebelum mencapai umur 16 tahun. Pada kasus UTI berulang, prosedur khitan sangat dianjurkan karena dapat berdampak merusak ginjal.
  3. Khitan juga dapat mengurangi risiko phimosis dan paraphimosis. Phimosis adalah suatu kondisi di mana kulit terluar penis tidak dapat ditarik kebelakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis. Sedangkan paraphimosis adalah kondisi sebaliknya, di mana kulit penis yang telah tertarik kebelakang tertahan dan tidak bisa dikembalikan ke posisi semula. Paraphimosis dapat menyebabkan pembengkakan atau edema di sekitar penis yang dapat menghentikan suplai darah.
  4. Manfaat khitan selanjutnya adalah mencegah penyakit menular seksual seperti sifilis serta menurunkan risiko infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan human papiloma virus (HPV). Berdasarkan telaah artikel yang dilakukan oleh Center of Disease Control (CDC) dari 28 studi berskala internasional sepanjang tahun 2000-an, disimpulkan bahwa khitan pada pria dapat mengurangi risiko infeksi HIV sebesar 44%. Angka ini meningkat menjadi 71% terutama pada kelompok risiko tinggi yang rentan terkena infeksi HIV. Tiga studi klinis yang dilakukan di Afrika, benua dengan prevalensi HIV/AIDS yang tinggi, khitan terbukti menurunkan insiden atau kasus baru pasien terinfeksi HIV sebesar 60% di Afrika Selatan, 51% di Uganda dan 53% di Kenya.

Dari sekian banyak penelitian yang telah dilakukan terkait dengan manfaat khitan dalam mengurangi risiko infeksi virus HIV, peneliti belum bisa menerangkan secara pasti mekanisme medis dan hubungan biologis dari kedua faktor tersebut. Penelitian terkini yang baru diliris oleh American Society for Microbiology pada bulan April 2013 menerangkan bahwa koloni mikroba yang hidup dan berkembang di dalam kulup penis mungkin berpengaruh terhadap pertahanan tubuh terhadap infeksi.

Lance Price, peneliti dari Translational Genomic Research Institute (TGen) mengadakan sebuah percobaan kepada sekelompok pria Uganda dengan melakukan analisis genetik terhadap mikroba yang hidup di dalam penis. Studi tersebut dipantau (follow up) selama satu tahun untuk membandingkan kondisi dan jenis mikroba sebelum dan setelah prosedur khitan dilakukan.

Pemeriksaan awal sebelum khitan menunjukkan kesamaan karakteristik mikroba pada dua kelompok pria yang dikhitan maupun yang tidak, setelah 12 bulan berjalan pria yang dikhitan memperlihatkan kemampuan untuk menekan angka pertumbuhan mikroba yang dapat hidup dalam kondisi oksigen yang rendah (anaerob) sebesar 81% diiringi dengan peningkatan bakteri aerob.

Tingginya jumlah bakteri anaerob pada pria yang tidak dikhitan dapat mengaktifkan sel Langerhans yang terdapat dalam kulup penis, mencegah mereka untuk melakukan peran normalnya dalam membunuh virus yang masuk. Pengaktifan sel ini membantu virus HIV untuk menginfeksi sistem kekebalan tubuh.

Lance Price menuturkan bahwa perubahan ini membawa dampak yang cukup besar. Dari segi ekologi, pemotongan kulup seperti mengubah suatu ekosistem, di mana kita dapat meningkatkan jumlah oksigen dan mengurangi kelembaban.

Penelitian ini dapat digunakan sebagai langkah awal untuk membuka tabir dalam menganalisis lebih jauh hubungan khitan dengan infeksi HIV yang sudah barang tentu harus didukung dengan penelitian tambahan yang lebih komprehensif.

Price menegaskan bahwa apabila kita sudah menemukan karakteristik bakteri anaerob pada penis yang meningkatkan risiko HIV, maka setidaknya kita telah menemukan alternatif lain untuk bisa menurunkan jumlahnya.

Tentang Penulis
Suci Pujiati, M. Epid adalah lulusan program Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Selain berpengalaman sebagai dosen dan peneliti, beliau juga  pernah terlibat dalam Technical Assistance of National Malaria Control Program, WHO Indonesia. Anda dapat menghubungi penulis melalui telp. 0813 6770 3737.
Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!