web analytics

Memilih Obat Pereda Sakit

Ada banyak obat penghilang rasa sakit (painkiller/ analgesik), yang paling populer di antaranya adalah aspirin, paracetamol dan ibuprofen. Masing-masing lebih efektif dibandingkan yang lain dalam mengurangi rasa sakit pada kondisi yang berbeda-beda, antara lain tergantung pada sifat dan penyebab rasa sakit, usia dan riwayat medis pasien.

Aspirin

Aspirin merupakan jenis pereda sakit paling tua yang telah beredar di pasar lebih dari 100 tahun. Untuk sakit kepala, nyeri menstruasi, atau sakit gigi, banyak orang  yang mengandalkan aspirin untuk mengurangi rasa sakit. Aspirin juga diandalkan sebagai obat pasca stroke.

Aspirin memang manjur pada sebagian besar kondisi, tetapi tidak cocok untuk semua pasien. Anak-anak di bawah dua belas tahun dan wanita hamil tidak disarankan meminum aspirin. Untuk rasa nyeri akibat pendarahan, aspirin juga tidak disarankan karena efeknya dalam mengencerkan darah sehingga dapat memperparah pendarahan.

Paracetamol

Paracetamol sangat populer terutama untuk meringankan gejala  pilek dan flu. Paracetamol dapat mengurangi sakit kepala, nyeri tubuh dan demam pada anak-anak maupun dewasa. Dokter juga meresepkannya selama kehamilan. Namun, dosis yang diberikan harus tepat karena dapat menimbulkan keracunan bila berlebihan. Anak-anak atau orang dengan kelainan fungsi hati dan ginjal harus mendapatkan takaran paracetamol yang tepat.

Ibuprofen

Ibuprofen dapat mengurangi demam dan rasa sakit ringan sampai sedang. Bila diberikan sebagai sirup, ibuprofen juga bermanfaat untuk anak-anak. Wanita hamil tidak disarankan mengkonsumsi ibuprofen karena diduga dapat membahayakan pembuluh arteri janin, menimbulkan edema dan menghambat kontraksi sehingga menunda kelahiran anak.

Penggunaan ibuprofen harus diusahakan dalam dosis terkecil yang memungkinkan. Pada orang dewasa, dosis maksimum harian ibuprofen adalah 1200 mg. Dosis yang lebih banyak tidak lebih baik dalam mengurangi sakit dan demam. Orang-orang tua (lansia) memerlukan dosis yang lebih rendah karena metabolisme tubuh mereka tidak lagi bekerja cepat sehingga mereka cenderung mempertahankan obat penghilang rasa sakit lebih lama dalam tubuh.

Kombinasi

Beberapa obat menggabungkan beberapa zat aktif, misalnya aspirin dicampur dengan paracetamol. Kafein kadang-kadang juga ditambahkan. Apakah kombinasi produk itu membantu meredakan nyeri lebih baik dibandingkan dengan pemberian secara terpisah, tidak selalu terbukti secara ilmiah. Kafein mungkin berkhasiat bagi penderita migrain, namun tidak untuk rasa sakit dari sumber lain. Kafein bahkan dapat menimbulkan efek ketagihan obat.

Kesimpulan

  • Baik aspirin, paracetamol atau ibuprofen, pada dasarnya ketiganya sama-sama berisiko terhadap fungsi ginjal atau menimbulkan reaksi alergi. Namun, jika dibandingkan dengan aspirin dan ibuprofen, paracetamol menunjukkan efek samping yang lebih sedikit pada lambung dan usus serta sirkulasi darah.
  • Obat dengan satu bahan aktif selalu lebih baik daripada produk kombinasi. Kafein tidak selalu bermanfaat untuk pengobatan sakit kepala.
  • Untuk mencegah nyeri pencernaan, sebaiknya meminum obat anti nyeri tidak dalam keadaan perut kosong.
  • Sebaiknya menelan tablet dengan air (tidak dengan makanan padat, misalnya dengan pisang). Tablet effervescent ASA lebih dianjurkan karena obat tidak terkonsentrasi di dalam perut. Selain itu, tablet effervescent bekerja lebih cepat.
  • Minumlah obat maksimal 3 kali sehari. Jika rasa sakit Anda berlanjut selama lebih dari tiga hari, atau memerlukan anti nyeri lebih dari tujuh hari per bulan, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.
Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka. Masukkan alamat e-mailmu:
    Yaslim - 40 harga produk
    40ribu
    Yaslim