Orang Eropa Tinggi, Orang Indonesia Pendek, Mengapa?

'Soldiers at Texas City  (LOC)' photo (c) 1910, The Library of Congress - license: http://www.flickr.com/commons/usage/Orang Eropa dan Amerika pada umumnya bertubuh tinggi besar, sedangkan orang Indonesia dan Asia pada umumnya bertubuh lebih kecil. Apakah ras Kaukasia (ras kulit putih) memang ditakdirkan bertubuh besar?

Jawabannya, mungkin tidak.

Kalau Anda pergi ke museum-museum di Eropa yang memamerkan baju orang Eropa di abad ke-19, Anda mungkin terkejut bahwa pada umumnya baju itu kecil-kecil, seukuran orang Indonesia saat ini. Dari penelitian terkini yang dilakukan oleh Timothy J. Hatton, Profesor Ekonomi dari Universitas Essex, ternyata memang tinggi rata-rata orang Eropa telah naik 11 cm dalam satu abad terakhir. Dari hasil penelitiannya di 15 negara Eropa, pria Eropa pada 1870 bertinggi rata-rata 167 cm, namun pada 1980 tinggi rata-rata mereka adalah 178 cm. Pria Belanda adalah para raksasa, dengan tinggi rata-rata saat ini 183 cm sedangkan pria Portugis yang terpendek di Eropa dengan rata-rata 173 cm. Penelitian tinggi badan hanya dilakukan pada pria karena hanya data tinggi badan pria yang tersedia untuk perbandingan, yang pada masa lalu dicatat dari mereka yang ikut dalam pendaftaran militer.

Taraf kesehatan, bukan ras

Temuan ini menguatkan kesimpulan bahwa taraf ekonomi dan kesehatan adalah penentu tinggi badan, bukan ras. Dalam laporan UNICEF tahun 2003, terlihat bahwa ras yang sama bisa memiliki perbedaan tinggi badan yang mencolok apabila taraf ekonomi dan kesehatannya berbeda. Laporan UNICEF itu menyebutkan bahwa orang Korea Utara yang dibesarkan pada tahun 1990-an –ketika kelaparan banyak melanda negara itu– memiliki tinggi badan 12 cm lebih pendek daripada orang muda Korea Selatan yang makmur. Perbedaan tinggi badan tidak terlihat pada warga kedua negara yang berumur di atas 40 tahun.

“Ukuran tubuh merupakan indikator kunci dari perbaikan rata-rata dalam kesehatan masyarakat,” kata Hatton. Peningkatan pengetahuan tentang kesehatan dan kebersihan serta sistem kesehatan yang baik sangatlah menentukan.┬áJadi yang penting adalah peningkatan taraf kesehatan.

Peningkatan taraf kesehatan, sebagaimana tercermin pada penurunan angka kematian bayi, adalah faktor tunggal terpenting dalam mendorong peningkatan tinggi badan. Hubungan antara kematian bayi dan tinggi badan telah ditunjukkan oleh sejumlah penelitian. Angka kematian bayi di Eropa turun dari rata-rata dari 178 per seribu di tahun 1871-1875 menjadi 120 per seribu di tahun 1911-1915, kemudian turun lagi menjadi 41 di 1951-1955 dan 14 di tahun 1976-1980. Di samping penurunan besar dalam angka kematian bayi, kenaikan pesat dalam tinggi rata-rata pria Eropa berkaitan dengan penurunan tajam angka kelahiran dan ukuran keluarga. Faktor-faktor lainnya adalah peningkatan pendapatan per kapita, sanitasi perumahan dan lingkungan, pendidikan umum tentang kesehatan dan gizi (yang menyebabkan perbaikan perawatan anak-anak dan remaja di dalam rumah), dan sistem layanan sosial dan kesehatan.

Pria Indonesia

Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (1997), tinggi rata-rata pria Indonesia adalah 158 cm, masih jauh lebih pendek daripada rata-rata pria Eropa di tahun 1870 dan juga jauh di bawah rata-rata pria Jepang (2011) yaitu 170 cm. Padahal, di tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia, kakek-nenek kita menyebut tentara Jepang sebagai “jago kate” yang artinya mereka pendek-pendek. Orang Jepang tampaknya juga mengalami kenaikan tinggi badan yang pesat dalam enam puluh tahun terakhir. Mungkin masih perlu beberapa generasi lagi sebelum pria Indonesia berdiri sama tinggi dengan para pria Eropa dan Jepang, dengan catatan pembangunan ekonomi dan kesehatan terus berjalan dengan baik. Semoga.

—————-
Sumber: Timothy J. Hatton: How Europeans have grown to tall, September 2013, Oxford Economic Papers

Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!