Penanganan Asma pada Anak

asma anak
Oleh: dr Sony Prabowo, Sp.A

Asma merupakan penyakit kronis / menahun yang sampai saat ini belum dapat  disembuhkan secara tuntas, sehubungan dengan reaksi alergi yang menyebabkannya.

Namun dengan penanganan yang tepat, maka asma dapat dikontrol sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan diharapkan jarang atau tidak terjadi serangan asma sama sekali.

Gejala

  • batuk sering terutama saat malam, sedang beraktivitas/bermain
  • batuk lama / menahun
  • napas yang cepat
  • dada terasa penuh atau sesak
  • mengi (wheezing) yang merupakan suara napas yang menyerupai suara peluit.
  • dada naik-turun secara berlebihan saat napas, menandakan kesulitan bernapas.
  • sesak napas
  • kadang terdapat keluhan nyeri dada
  • sulit tidur saat malam hari karena sesak napas
  • aktivitas fisik/bermain/ olah raga menjadi terbatas karena sesak napas
  • kelelahan karena sesak napas dan kurangnya tidur waktu malam

Penyebab dan Faktor Resiko

  • faktor genetik / keturunan
  • infeksi saluran napas saat bayi /balita
  • paparan faktor lingkungan seperti asap rokok, polusi udara
  • alergi debu, hewan peliharaan, polen, jamur.
  • aktivitas fisik dapat memicu terjadinya asma
  • perubahan cuaca, khususnya pada udara dingin

Beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya asma:

  • paparan terhadap asap rokok
  • reaksi alergi sebelumnya, termasuk alergi pada kulit, alergi makanan, alergi hidung.
  • riwayat keluarga yang memiliki asma, alergi hidung, biduran, eksim (alergi kulit)
  • tinggal di kota dengan polusi udara yang tinggi
  • obesitas / kegemukan
  • berat lahir yang rendah (< 2,5 kg)
  • infeksi paru-paru (pneumonia), sinus
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Diagnosis

Diagnosis asma ditegakkan dengan: riwayat penyakit dan deskripsi gejala asma, pemeriksaan fisik, tes fungsi paru (peak flow metri atau spirometri), pemeriksaan lain untuk menyingkirkan diagnosis banding lainnya. Tes alergi pada kulit dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab alergi, yang kadang juga menjadi penyebab asma.

Tujuan Pengobatan Asma

Asma ditangani dengan berbagai strategi pengobatan dengan tujuan agar:

  • dapat hidup dengan normal dan aktif
  • gejala asma seminimal mungkin bahkan bisa tanpa ada gejala.
  • dapat masuk sekolah / bekerja setiap hari tanpa terganggu oleh asma
  • mencegah timbulnya gejala asma pada malam hari
  • dapat melakukan aktivitas harian, bermain dan mengikuti olah raga tanpa terganggu oleh asma
  • penggunaan obat untuk mengatasi serangan asma seminimal mungkin.
  • mengurangi bahkan menghindari serangan asma yang memerlukan penanganan segera oleh dokter atau UGD rumah sakit.
  • menggunakan obat pengontrol asma tanpa efek samping / seminimal mungkin.

Pengobatan Asma

Saat ini terdapat 2 strategi pengobatan asma, yaitu :

1. Pengobatan untuk mencegah terjadinya serangan asma

Digunakan jangka panjang, berupa inhaler (obat semprot) maupun serbuk halus yang dihirup sampai paru-paru. Obat golongan ini mengurangi reaksi peradangan di saluran napas sehingga mencegah terjadinya serangan asma.

Jenis obat pengontrol (mencegah serangan asma) antara lain :

  • kortikosteroid inhalasi (dihirup), dosis yang perlu diberikan sangat kecil karena langsung bekerja di paru-paru.
  • Leukotriene modifier, misal montelukast, zafirlukast, zileuton
  • Inhalasi kombinasi, mengandung kortikosteroid dan LABA yang diberikan secara inhalasi. Beberapa contoh yang ada di Indonesia yaitu : Seretide inhaler dan Symbicort turbohaler. Obat ini digunakan setiap hari jangka panjang untuk mencegah serangan asma, dan bila dalam beberapa bulan tidak terjadi serangan asma maka dosis dan frekuensinya dapat diturunkan bertahap oleh dokter sampai akhirnya dihentikan pemakaiannya.
  • Theophylline, saat ini sudah sangat jarang digunakan di negara maju karena efek sampingnya.

2. Pengobatan untuk mengatasi saat serangan asma

Berfungsi secara cepat melebarkan kembali jalan napas yang menyempit saat terjadi serangan asma, sehingga pertukaran udara bisa kembali normal dan gejala sesak berkurang/ menghilang.

Jenisnya antara lain :

  • Beta agonis aksi cepat, misal salbutamol, terbutalin, yang biasa digunakan dengan nebulisasi (terapi uap). Terdapat juga dalam bentuk injeksi yang segera bekerja setelah disuntikkan. Bila pasien tidak berespon baik dengan pemberian nebulisasi ini di rumah maka perlu segera dibawa ke UGD untuk penanganan lebih lanjut.
  • Anticholinergic, misal : Ipratropium, berfungsi membantu melonggarkan jalan napas.
  • Kortikosteroid obat minum dan injeksi intravena, berfungsi untuk mengurangi reaksi peradangan pada saat serangan asma sedang dan berat, yang biasanya cuma diberikan dalam jangka pendek, mengingat banyaknya efek samping bila diberikan dalam jangka panjang.

Selain pengobatan di atas, perlu kiranya dilakukan perbaikan lingkungan untuk mencegah terjadinya serangan asma, antara lain dengan :

  • menjaga agar udara di rumah tidak terlalu lembab.
  • air conditioner (AC) harus sering dibersihkan, paling lama setiap 3 bulan sekali.
  • hindari hewan peliharaan berbulu di dalam rumah.
  • hindari debu di dalam rumah
  • bersihkan rumah secara teratur dengan cara basah (langsung dengan lap basah dan pel) agar debu tidak beterbangan di udara.
Tentang Penulis:
dr Sony Prabowo, Sp.A adalah staf medis pada Siloam Hospital, Bali. Lulusan fakultas kedokteran Universitas Brawijaya dan residensi pediatrik Davao Doctor Hospital, Davao, Filipina, ini juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kesehatan untuk masyarakat miskin dan pencegahan aborsi ilegal. Bila Anda memiliki masalah terkait dengan kesehatan bayi dan anak, silakan berkonsultasi dengan dr Sony melalui halaman kontak
Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!