18 May 2012
  • Tentang Kami
  • Kirimkan Artikel Anda
  • Home
MajalahKesehatan.com
  • PENYAKIT & KONDISI
    • Gangguan tidur
    • Gejala Penyakit
    • Gigi & Mulut
    • Imunologi
    • Infeksi
    • Kanker
    • Kardiovaskuler
    • Kesehatan Jiwa
    • Kesehatan mata
    • Kesehatan Pria
    • Kesehatan Wanita
    • Kulit & Kelamin
    • Masalah Kongenital
    • Pencernaan
    • Seks & Reproduksi
    • Saraf, otot & otak
    • THT
    • Tulang & Sendi
  • GAYA HIDUP
    • Perawatan tubuh
    • Olah raga
    • Pencegahan penyakit
    • Pengetahuan populer
    • Makanan sehat
    • Asuransi kesehatan
    • Puasa
  • IBU & BALITA
    • Kehamilan
    • Perawatan bayi
    • Makanan balita
    • Kesehatan Anak
  • OBAT
    • Pengetahuan obat
    • Obat alami
  • SUMBERDAYA
    • Download
    • Kalkulator Kesehatan
    • Kuis Kesehatan
    • Kamus Kesehatan
  • E-STORE
    • Makanan Kesehatan
    • Alat Kesehatan
  • KONTAK
    • Kirim Artikel
    • Kontak kami

Pria Juga Bisa Mengalami “Menopause”

Kategori: Kesehatan Pria 2 Komentar

Banyak orang mengira hormon seksual pria tidak dipengaruhi usia. Hal itu tidak benar. Penelitian terbaru membuktikan bahwa pria juga mengalami penurunan hormon seksual seperti halnya wanita.

Setiap wanita yang hidup cukup lama akan mengalami menopause, yaitu jeda permanen dalam siklus haid yang menandai berakhirnya aliran hormon estrogen di dalam tubuhnya. Biasanya, hal ini terjadi di usia antara 45 dan 55 tahun. Penurunan dramatis dalam hormon ini dapat memicu segala macam perubahan fisik dan psikologis.

Sebaliknya, aliran hormon pada pria tidak berhenti mendadak seperti pada wanita. Namun, kadar testosteron secara bertahap mulai menurun dengan laju penurunan 1-2 persen per tahun mulai usia 30 tahun. Pada beberapa pria, akumulasi hasilnya selama bertahun-tahun bisa tidak menyenangkan dan berpotensi mengubah hidup. Banyak orang menyebut kondisi itu sebagai menopause pria. Istilah yang lebih tepat adalah andropause.

Apakah andropause?

Andropause berasal dari kata androgen, yang mengacu pada hormon laki-laki– meskipun perempuan juga memilikinya dalam tingkat lebih rendah. Androgen utama adalah testosteron, DHT (dihidrotestosteron), androstenedion, dan DHEA (dehidroepiandrosteron). Testosteron meningkatkan libido, membangun jaringan tubuh (termasuk otot dan tulang), membantu menjaga sekresi minyak yang normal di kulit dan rambut, dan memiliki efek pada fungsi kognitif otak, ketajaman mental dan konsentrasi, kemampuan visual-spasial, stamina dan suasana hati yang normal. Androgen diperlukan untuk fungsi ereksi normal, sedangkan testosteron adalah kofaktor yang diperlukan untuk produksi sperma dan kesuburan. Androgen menyebabkan karakteristik seksual laki-laki, termasuk wajah, pertumbuhan rambut dan suara yang lebih dalam. Testosteron bermanfaat bagi jantung dan pembuluh darah.

Andropause adalah situasi yang terjadi ketika testis tidak menghasilkan cukup testosteron. Banyak penelitian mendefinisikan testosteron rendah pada pria bila kadarnya 250-300 nanogram per desiliter atau kurang. Pria berusia 20-an dan 30-an biasanya memiliki kadar testosteron dalam kisaran 600. Menurut New England Journal of Medicine (Rhoden, Januari 2004), testosteron rendah terjadi pada sekitar 9% pria berusia 40-an, 30% pria berusia 50-an, 42% pria berusia 60-an dan 70% pria berusia 70-an.

Gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi alkohol yang tinggi, kegemukan dan stres meningkatkan risiko andropause.

Gejala

Gejala umum andropause termasuk (tidak semua selalu hadir):

  • penurunan libido
  • lemah /letih /lelah
  • perubahan memori
  • disfungsi ereksi (impotensi).

Gejala lain mungkin termasuk (tidak semua selalu hadir):

  • stamina menurun
  • penurunan daya mental,  kognisi, konsentrasi, lekas marah, gugup, depresi, murung, berkeringat malam, palpasi dan jantung berdebar.
  • penurunan elastisitas kulit
  • penurunan massa dan  kekuatan otot, peningkatan massa lemak
  • pengurangan rambut/bulu di ketiak dan kemaluan
  • pengurangan ukuran testis
  • penurunan massa tulang
  • penurunan jumlah sperma

Beberapa gejala di atas tidak spesifik sehingga dapat disebabkan oleh faktor lain.

Diagnosis

Tidak ada cara tunggal untuk mendiagnosis andropause. Selain mempertimbangkan kondisi kesehatan secara keseluruhan melalui riwayat medis, eksaminasi fisik, dll,  tes laboratorium diperlukan untuk mengetahui berapa banyak testosteron yang dihasilkan seorang pria.

Penanganan

Andropause adalah proses alami. Anda dapat tetap hidup sehat meskipun memiliki testosteron rendah. Bila kondisi tersebut menimbulkan masalah seperti memicu timbulnya diabetes, masalah tiroid atau impotensi, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter ahlinya untuk mengatasi masalah spesifik Anda.

Terapi hormon testosteron adalah pilihan yang berisiko karena dapat berkontribusi terhadap sleep apnea, penyakit jantung, pertumbuhan kanker prostat, dan lainnya.

image: source

Sebarkan, cetak atau simpan halaman ini:
  • Twitter
  • PDF
  • Print
  • Add to favorites
  • Facebook
  • Google Buzz

Artikel terkait:

  • Epimedium: Tumbuhan yang Membuat Kambing Jadi “Horny”

Berlangganan:

Anda menyukai artikel-artikel di situs ini? Kenapa tidak berlangganan saja lewat email? Bergabunglah dengan 3.000-an orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Masukkan alamat e-mailmu:

2 Komentar utk “Pria Juga Bisa Mengalami “Menopause””

  1. Prabawati Sinta says:
    30 March 2011 at 10:12 am

    Maaf jurnalnya dri mna sja y? :-)
    Thanks,,

    nb:klo bsa krm jwban ke email sya mercy mercy :)

  2. dr Salma says:
    31 March 2011 at 12:25 am

    @prabawati, jurnal yang mana?

Google
Arsip artikel

Kalkulator Kesehatan

Kuis Kesehatan

Kontak| Kirim Artikel| KamusKesehatan.com| KeluargaBerencana.com| BlogDokter.com| Herbalku.com| eStore

© Copyright 2012. MajalahKesehatan.com. All Rights Reserved.