Sunat Mengurangi Risiko Infeksi HIV

'Ikut shalat' photo (c) 2007, Ivan Lanin - license: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/Sejumlah penelitian yang dilakukan selama dua dekade terakhir telah menunjukkan bahwa sunat/khitan pada laki-laki mengurangi risiko infeksi HIV sebesar 50% sampai 60%. Para ilmuwan belum tahu mengapa. Beberapa peneliti telah berspekulasi bahwa kulup mudah robek sehingga membuat virus lebih mudah masuk. Yang lain berpendapat bahwa penghapusan kulup hanya mengurangi luas permukaan yang berpotensi untuk terinfeksi.

Baru-baru ini dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal mBio, para ilmuwan melihat titik terang mengenai jawabannya. Hal itu diduga ada hubungannya dengan jumlah bakteri yang menghuni sulkus koronal, alur-alur lekukan dangkal di belakang kepala penis (glans penis).

Mengandalkan teknologi terbaru yang membuat sekuensing gen organisme dengan lebih cepat dan lebih mudah diakses, Cindy Liu dan Lance Price dari Translational Genomics Research Institute (TGen), dkk melakukan analisis genetik rinci koloni mikroba di penis 156 pria Uganda yang dipilih secara acak. Peserta penelitian berkisar pada usia 15-49. Setengah dari kelompok pria itu kemudian disunat, setengah lainnya tidak.

Meskipun semua pria menunjukkan komunitas mikroba serupa sebelum operasi, 12 bulan kemudian, laki-laki yang disunat secara dramatis memiliki lebih sedikit bakteri yang bertahan hidup dalam kondisi oksigen yang rendah (bakteri anaerob). Mereka juga memiliki total bakteri 81% lebih sedikit dibandingkan dengan pria yang tidak disunat.

“Siapa pun yang pernah mengangkat batu dan melihat tanah di bawahnya dengan cepat ditinggalkan oleh banyak serangga-serangga dan cacing-cacing kecil akan memahami hal ini,” kata pemimpin studi Dr Cindy Liu. Setelah kulup dipotong, massa bakteri genital yang pernah ada di bawahnya akhirnya menghilang.

Berkurangnya jumlah bakteri tersebut dapat berefek dramatis pada kemampuan pria untuk melawan infeksi seperti HIV. Mengapa? Sejumlah besar bakteri bisa mengganggu kemampuan sel-sel kekebalan khusus yang disebut sel Langerhans untuk mengaktifkan pertahanan imunitas. Biasanya, sel-sel Langerhans bertanggung jawab untuk menarik mikroba penyerang seperti bakteri atau virus dan menempatkannya ke sel-sel kekebalan yang melakukan identifikasi dan respon. Tapi ketika beban bakteri meningkat, seperti pada lingkungan penis yang tidak disunat, reaksi peradangan meningkat dan sel-sel itu justru menginfeksi sel-sel sehat dengan mikroba.

“Itulah mungkin mengapa pria yang tidak disunat lebih mudah tertular HIV dibandingkan pria yang disunat,” kata Price, “karena sel-sel Langerhans dapat mengantarkan HIV langsung ke sel-sel sehat”. Kelompoknya juga menyelidiki bagaimana perubahan tingkat sitokin, yang merupakan molekul sinyal yang digunakan sel-sel kekebalan untuk berkomunikasi satu sama lain, mungkin dipengaruhi oleh populasi bakteri.

———————–

Sumber: Male Circumcision Significantly Reduces Prevalence and Load of Genital Anaerobic Bacteria, mBio, published 16 April 2013.

Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!