Vaksin DNA: Seri Vaksin Terbaru Di Abad 21

'DNA extraction' photo (c) 2011, Col Ford and Natasha de Vere - license: http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/Dikirim oleh: Kristi Novianti

Dewasa ini, dunia dikagetkan oleh berbagai macam jenis penyakit yang ditimbulkan oleh suatu virus yang baru dikenal. Misalnya, virus H1N1 dan virus H5N1 yang semula hanya menyerang hewan ternak kini mulai menyerang manusia karena adanya kontak langsung antara manusia dengan hewan yang sakit. Kontak tersebut dapat melalui udara atau mengonsumsi hewan yang sudah terjangkit penyakit.

Kejadian yang marak beberapa tahun terakhir ialah kasus Flu burung oleh virus H5N1 dan Flu babi oleh virus H1N1, yang menyerang dunia khususnya Asia. Hewan atau manusia yang terjangkit virus tersebut akan mengalami penurunan daya tahan tubuh dengan gejala seperti demam tinggi, batuk-batuk dan sesak napas sehingga ada yang berujung kematian.

Okezone News (2009) mengungkapkan bahwa selama tahun 2009, di Indonesia kasus positif terjangkit virus H1N1 flu babi mencapai 400 kasus dari pelbagai provinsi di indonesia. Pada beberapa penderita berujung kematian.

Sejauh ini, para peneliti terus bekerja keras guna memperoleh suatu penemuan yang dapat menekan jumlah orang yang menjadi korban dari serangan virus flu babi dan flu burung. Virus flu sangat adaptif dan mudah bermutasi, sehingga tidak heran jika virus flu paling resisten menyerang tubuh. Beberapa bulan setelah Anda terjangkit flu, Anda akan terserang virus flu kembali.

Pada abad ke-19, Edward Jenner (1798) menemukan vaksin yang kemudian dilanjutkan oleh peneliti lainnya, yakni Louis Pasteur (1880). Di awal penemuan dilakukan pengembangan vaksin virus, di mana virus penyakit tersebut dilemahkan, dimatikan atau diambil proteinnya pada bagian tertentu saja. Hasilnya, vaksin virus tersebut mampu memicu kekebalan aktif pada tubuh penderitanya.

Perkembangan ilmu Bioteknologi semakin mutakhir terutama di bidang Bioteknologi Kesehatan. Penemuan yang menjadi terobosan inovatif dan terbaru ialah Vaksin DNA. Vaksin DNA ini diperoleh melalui serangkaian proses rekayasa genetika. DNA dari suatu virus, misalnya virus H1N1 dianalisis protein mana yang menyebabkan penyakit, kemudian diambil proteinnya dan dikonstruk dengan plasmid bakteri. Vaksin DNA ini harus melewati serangkaian tahap pengujian laboratorium. Setelah lolos tahap pengujian, maka vaksin DNA dapat disuntikkan ke tubuh hewan atau manusia yang terjangkit virus. Salah satu alasan, mengapa DNA dapat disuntikkan ke dalam tubuh (khususnya manusia) karena terkait dengan sifat dari DNA yang merupakan suatu protein sehingga dapat dimodifikasi melalui rekayasa genetika.

Setelah penyuntikan vaksin, vektor plasmid akan masuk ke dalam sel-sel tubuh. Kehadiran “protein asing” itu akan memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali bilamana ada sesuatu yang salah. Sistem kekebalan tubuh kita akan merespon vaksin DNA tersebut dengan dua cara, yakni membunuh langsung virus dan mengenali virus (dikenal sebagai Sel B memori) di mana sel tersebut menyimpan memori terkait ciri-ciri virus, yang dapat melawan virus di kemudian hari.

Vaksin DNA jelas berbeda dengan vaksin virus, karena pada vaksin DNA pasien tidak disuntik dengan antigen virus, melainkan melibatkan DNA hasil rekombinasi yang ketika masuk ke dalam tubuh, vaksin DNA tersebut akan diterjemahkan menjadi suatu antigen oleh limfosit (sel darah putih) yang berperan dalam sistem kekebalan dalam melawan suatu virus atau penyakit.

Penemuan terbaru ini memiliki banyak kelebihan, salah satunya ialah memicu respon kekebalan yang lebih lama. Namun, di sisi lain teknologi vaksin DNA ini akan menjadi berbahaya jika DNA tersebut diterjemahkanoleh sel tubuh selain sel limfosit (sel darah putih) yang dapat menyebabkan mutasi. Oleh karena itu, perkembangan Bioteknologi kesehatan, khususnya vaksin DNA ini perlu dilakukan kajian terus menerus agar diperoleh solusi untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, etika Bioteknologi diperlukan di setiap perbaharuannya.

Tentang Penulis:
Artikel ditulis oleh “Kelompok Besar 4 Bioteknologi”, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung dan sudah di-judgement oleh Tim Dosen Bioteknologi pimpinan Dr. Topik Hidayat, M.Si.

1 Komentar

  1. Kramadangsa
    16 Januari 2013    

    Mudah-mudahan bermanfaat bagi peradaban dan kesehatan umat manusia.

Arsip Artikel
Bergabunglah dengan ribuan orang lain yang secara otomatis mendapatkan artikel baru dari situs ini ke email mereka.
Berlangganan
Nama: 
Alamat email Anda:*
Please enter all required fields
Correct invalid entries
Buku best seller nasional oleh dr Salma. Tiga kali cetak ulang hanya dalam 6 bulan setelah terbit! Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda!